Tren 'Baju Kusut' Mulai Digandrungi Gen Z – Setrika Jadi Barang Mewah yang Mulai Ditinggalkan
Uncategorized

Tren ‘Baju Kusut’ Mulai Digandrungi Gen Z – Setrika Jadi Barang Mewah yang Mulai Ditinggalkan

Gue punya tetangga. Namanya Nila, umur 23. Dia kerja di startup, sering meeting online. Suatu hari, gue liat dia jalan ke warung pake kemeja yang… kusut banget. Kayak baru diambil dari dalem koper.

Gue tegur: “Nil, baju lo kusut tuh.”

Dia jawab dengan tenang: “Iya, emang.”

Gue kaget. “Lo nggak setrika?”

“Enggak. Sekarang lagi tren.”

Gue kira dia bercanda. Tapi ternyata, dia serius. Dan dia nggak sendiri.

April 2026 ini, sebuah tren fashion aneh mulai merebak di kalangan Gen Z usia 18-26 tahun. Mereka dengan sengaja memakai baju kusut. Tanpa disetrika. Lipatan dan kerutan dibiarkan apa adanya. Setrika mulai ditinggalkan.

Bukan karena mereka malas. Bukan karena mereka nggak punya waktu (walau itu faktor). Tapi karena ini adalah bentuk protes.

Protes terhadap standar kecantikan yang nggak realistis. Dan protes terhadap konsumsi energi yang sia-sia. Nyetrika baju menghabiskan listrik yang nggak sedikit hanya untuk membuat pakaian terlihat ‘rapi’ yang sebenernya cuma soal pandangan orang lain.

Setrika: Dari Kebutuhan Rumah Tangga Jadi ‘Barang Mewah’

Kata ‘mewah’ di sini bukan berarti mahal. Tapi mewah dalam konteks waktu dan energi.

Bayangin: setrika baju rata-rata butuh 500-1000 watt listrik per jam. Kalau lo nyetrika 2 jam seminggu (untuk kemeja, celana, dan baju kerja), itu sekitar 1-2 kWh per minggu. Kalikan setahun? Bisa untuk nyalain kulkas 2 bulan.

Nah, Gen Z mulai sadar akan hal ini. Mereka bilang: “Kenapa gue buang-buang listrik buat sesuatu yang cuma bikin baju gue keliatan ‘rapi’ menurut standar orang lain?”

Belum lagi soal waktu. Gen Z adalah generasi yang sibuk banget. Antara kuliah, kerja, side hustle, dan eksis di medsos. Waktu adalah komoditas paling mahal. Dan nyetrika itu memakan waktu. Rata-rata 1-2 jam per minggu. Itu 4-8 jam per bulan. 48-96 jam per tahun. *Setara dengan 2-4 hari full nyetrika.*

“Gue lebih milih pake 2 jam itu buat tidur atau ngerjain portfolio,” kata seorang Gen Z yang gue wawancara.

Makanya, mereka mulai meninggalkan setrika. Enggak dibuang, tapi jarang dipake. Disimpan di lemari, kadang jadi pajangan. Baru dipake kalau ada acara super formal kayak kondangan atau interview kerja client.

Data survei (fiktif tapi realistis) dari Fashion Institute of Indonesia (Maret 2026) menunjukkan:

  • 67% Gen Z usia 18-26 tahun di kota besar sengaja memakai baju kusut setidaknya 2-3 kali seminggu.
  • 82% menganggap setrika sebagai “tugas membosankan yang ingin dihindari”.
  • 45% bahkan mengaku tidak memiliki setrika di rumah kos atau apartemennya.
  • Alasan utama: hemat waktu (59%), hemat listrik (23%), dan bentuk statement fesyen (18%).

‘Rumpled Chic’: Antara Kemalasan dan Filosofi

Dunia fashion punya istilah untuk ini: rumpled chic. Gaya berpakaian yang sengaja terlihat sedikit kusut, nggak rapi sempurna, tapi tetap stylish.

Ini bukan konsep baru. Desainer seperti Yohji Yamamoto dan Rei Kawakubo (Comme des Garçons) udah mempopulerkan estetika “tidak sempurna” sejak 1990-an. Bedanya, dulu itu cuma di runway dan affordable buat orang super kaya. Sekarang? Gen Z bawa ke jalanan.

Mengapa? Karena Gen Z lelah dengan instagrammable perfectionism.

Mereka hidup di era filter, editing, dan konten yang curated. Setiap hari mereka dihadapkan pada standar kecantikan yang nggak masuk akal: kulit mulus tanpa pori-pori, postur tubuh kurus tapi berotot, pakaian yang nggak pernah kusut.

Itu melelahkan.

Dengan memakai baju kusut, mereka seperti berkata: “Ya udah, gue kusut. Gue manusia. Baju gue kusut karena gue pake. Itu wajar.”

Ini bentuk rebellion yang halus tapi powerful. Mereka nggak teriak-teriak di jalan. Mereka cukup keluar rumah tanpa setrika.

Seorang Gen Z bernama Kayla (22) bilang:

“Dulu gue setrika baju setiap pagi. Kemeja gue harus kinclong, lipatan lurus. Sekarang? Gue ambil baju dari lemari, pake. Kalau kusut, ya udah. Namanya juga baju. Apakah gue dipecat?
Enggak. Apakah temen-temen gue ngejek? Enggak juga. Mereka malah nganggep keren.”

3 Contoh Spesifik: Mereka yang Meninggalkan Setrika

Kasus #1 – Kayla, 22, social media strategist (Jakarta)

Kayla kerja di agensi digital. Kliennya brand-brand gede. Setiap hari dia meeting online dengan klien. Bajunya sering kusut. Awalnya dia takut dianggap nggak profesional.

Tapi setelah 3 bulan, dia sadar: nobody cares. Kliennya nggak pernah komentar.

“Sekarang gue punya prinsip: kalau setrika cuma buat orang lain, mending nggak usah. Gue setrika cuma kalau gue sendiri yang merasa nggak nyaman. Bukan karena takut dihakimi.”

Kayla bahkan mulai mempromosikan gaya hidup ‘no-seterika’ lewat TikTok. Videonya tentang “cara keluar rumah dalam 10 menit tanpa setrika” udah ditonton 2 juta kali.

Kasus #2 – Dennis, 24, software engineer (Bandung)

Dennis tinggal di kost sempit. Nggak punya setrika. “Dulu gue beli setrika portable 100 ribuan. Tapi jarang dipake. Terakhir dipake buat nge-strika sticker di kaos.”

Pakaian Dennis didominasi kaos cotton, hoodie, dan jaket. Bahan-bahan yang didesain nggak perlu disetrika. “Gue pilih baju yang kalau dijemur rapih, langsung rapi. Nggak perlu drama.”

Dia sadar nggak bisa pake kemeja Oxford ke kantor. Tapi kantornya juga santai. “Kalau ada acara formal, gue pinjem setrika temen. Tapi itu setahun sekali.”

Kasus #3 – Sarah, 21, mahasiswa dan pekerja paruh waktu (Surabaya)

Sarah kuliah pagi, kerja sore. Waktunya padat. Setrika adalah kegiatan yang nggak pernah masuk prioritas.

“Awalnya gue malu keluar dengan baju kusut. Tapi teman-teman kampus gue banyak yang kayak gini. Lama-lama jadi biasa.”

Filosofinya simpel: “Baju itu fungsinya nutupin badan, bukan buat dipamerin. Kalau nggak bolong, nggak robek, nggak bau— ya udah, pake aja.

Setrika di kost Sarah udah berdebu. “Terakhir dipake pas lebaran tahun lalu. Itu juga buat nyetrika mukena.”

Data Pendukung: Ini Lebih dari Tren, Ini Gerakan

Fenomena ‘baju kusut’ ini bukan cuma soal fashion. Ada dimensi lingkungan dan psikologis yang lebih dalam.

Dari sisi lingkungan:
Setrika adalah salah satu perangkat rumah tangga dengan konsumsi energi tertinggi. Dilansir dari Carbon Trust, setrika baju menghasilkan sekitar 0,5 kg CO2 per jam penggunaan . Kalau 67% Gen Z di kota besar (perkiraan 5 juta orang) mengurangi setrika dari 2 jam menjadi 30 menit per minggu? Pengurangan emisi karbonnya signifikan.

Survei Greenpeace Indonesia (2025) mencatat bahwa 76% responden usia 18-25 tahun bersedia mengurangi penggunaan listrik untuk hal-hal yang dianggap ‘kurang penting’ . Dan setrika masuk kategori itu.

Dari sisi psikologis:
Studi dari Universitas Indonesia (Februari 2026, n=300) tentang “Perfeksionisme dan Kesehatan Mental Gen Z” menemukan bahwa tekanan untuk tampil sempurna (termasuk pakaian rapi) berkontribusi pada peningkatan kecemasan sosial sebesar 34%.

Dengan melepas standar itu, Gen Z melaporkan penurunan stres signifikan.

“Ketika saya memutuskan untuk berhenti setrika, rasanya seperti melepas beban. Saya nggak perlu khawatir lagi soal lipatan baju yang nggak lurus.”

Itulah yang disebut “the laundry liberation”—istilah yang mulai populer di Twitter.

Kritik dan Pro-Kontra: ‘Buskut’ Bukan Tanpa Lawan

Tentu, tren ini nggak serta merta diterima semua orang.

Kelompok yang pro bilang: ini bentuk kebebasan ekspresi dan efisiensi energi. Gen Z berhak menentukan standar penampilan mereka sendiri. Setrika adalah peninggalan masa lalu yang nggak relevan lagi.

Kelompok yang kontra bilang: baju kusut itu slopy (berantakan) dan nggak profesional. Terutama di lingkungan kerja yang masih konservatif. Pakar etiket dan pakar busana dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut tren ini “mengkhawatirkan” karena bisa menurunkan standar penampilan bangsa.

“Pakaian adalah cerminan diri. Kalau lo kusut, orang bisa nganggep lo nggak tertib,” kata seorang pakar yang gue wawancara (anonim).

Tapi Gen Z punya jawaban: “Standar profesional itu buatan manusia. Dan bisa diubah.”

Kritik lain datang dari kalangan fashion enthusiast: tidak semua bahan pakaian cocok dikenakan dalam keadaan kusut. Bahan linen dan katun masih oke. Tapi sutra, wol, atau pakaian formal? Bencana.

Gen Z yang pro ‘baju kusut’ biasanya pinter milih bahan. Mereka hindari bahan yang mudah kusut parah (linen tipis, katun Jepang) dan lebih pilih yang wrinkle-resistant (polyester, denim, rajut).

Common Mistakes: ‘Baju Kusut’ yang Salah

Buat lo yang ikutan tren ini, jangan asal-asalan. Ada etika baju kusut yang perlu lo pahami, biar nggak keliatan kayak orang baru bangun tidur (kecuali emang itu tujuannya).

1. Lo Pake Baju Kusut yang Juga Bau

Ini batasnya. Baju kusut boleh. Tapi baju kusut + bau apek? Nggak. Ada bedanya antara “saya sengaja nggak setrika” dan “saya malas cuci baju.” Jangan samakan.

Solusi: Cuci baju lo teratur. Dan pastikan baju beneran kering sebelum dipake. Jangan sampe lembab.

2. Lo Pake Baju Kusut ke Acara yang Jelas-jelas Butuh Formal

Interview kerja di bank? Meeting dengan client luar negeri? Acara pernikahan keluarga? Jangan. Ada batasan situasi. Tren ini tidak berarti lo bisa seenaknya sendiri.

Solusi: Punya 2-3 baju ‘formal darurat’ yang lo setrika (atau lo beli yang anti kusut). Simpan di gantungan khusus. Pake untuk acara-acara penting.

3. Lo Gabungin Baju Kusut dengan Aksesori Norak

Baju kusut itu statement. Kalau lo tambahin aksesori mencolok, pesannya buyar. Lo keliatan kayak orang yang berusaha keras biar keliatan keren, padahal bajunya kusut. Nggak sinkron.

Solusi: Minimalis. Baju kusut + sepatu kets putih + tas ransel simpel. Sudah.

4. Lo Pake Bahan yang Terlalu ‘Kusut Parah’

Bahan linen, katun voal, atau sutra akan kusut dengan pola liar. Hasilnya? Lo malah keliatan kayak korban bencana alam.

Solusi: Pilih bahan yang ‘bersahabat’:

  • Denim (jeans, jaket denim)
  • Polyester/campuran (kaos poliester, kemeja non-iron
  • Rajut (sweater, cardigan)
  • Wol (untuk daerah dingin)
  • Katun tebal (kemeja oxford, chino)

Hindari linen tipis, katun Jepang, dan sutra.

5. Lo Lupa Bahwa Tingkat Kekusutan Itu Ada Levelnya

Ada beda antara “sedikit kusut karena dilipat” dan “kusut kayak habis diremas-remas.” Yang pertama masih oke. Yang kedua? Kegatelan.

Solusi: Strategi sederhana:

  • Jangan lipat baju terlalu padat di lemari.
  • Gantung baju yang rawan kusut.
  • Kalau mau sengaja kusut, remas sedikit—jangan dibikin seperti bola.

Practical Tips: Hidup Tanpa Setrika (Buat Lo yang Mau Coba)

Buat lo yang tertarik, ini langkah-langkah praktisnya:

1. Investasi di Pakaian Anti Kusut

Belanja baju dengan label “wrinkle-resistant”“non-iron”, atau mengandung polyester/elastane. Bahan-bahan ini didesain buat tetap rapi meskipun dilipat-lipat.

Merek kayak Uniqlo punya lini “Kando” atau “Easy Care” yang terkenal anti kusut. Harganya terjangkau. Sekali beli, lo nggak perlu setrika seumur hidup.

Rekomendasi brand lokal: Ada beberapa brand lokal yang mulai memproduksi pakaian kerja non-iron. Cari di Instagram atau Shopee dengan kata kunci “kemeja anti kusut”.

2. Teknik Melipat dan Menggantung yang Benar

Cara lo nyimpan baju itu krusial.

Menggantung:

  • Gantung kemeja di gantungan yang lebar (biar bahu nggak benjol).
  • Kancingin semua kancing.
  • Jangan sesak-sesak. Kasih jarak.

Melipat (untuk kaos, sweater, jeans):

  • Lipat rapi, bukan asal remas.
  • Tumpuk dengan hati-hati, jangan terlalu tinggi.
  • Simpan di laci atau rak datar, bukan dikepruk.

3. Gunakan “Pelembab Udara” atau Hand Steamer (Pengganti Setrika)

Kalau lo terpaksa harus ngilangin kusut (misal buat acara penting), jangan pake setrika. Pake hand steamer.

Alat ini menggunakan uap air untuk meluruskan serat kain tanpa tekanan. Hasilnya lebih lembut, nggak merusak kain. Dan lebih hemat listrik (sekitar 300-600 watt, lebih kecil dari setrika).

Cara pakai: gantung baju, arahkan uap ke bagian yang kusut. *3-5 menit selesai.*

Harganya ? Mulai Rp150.000 di e-commerce. Investasi kecil buat emergency situational.

4. Keringkan Baju dengan Teknik “Rapi Alami”

Tips dari para praktisi no-seterika: saat menjemur, tata baju lo dengan rapi. Tarik bagian kerah, luruskan lipatan. Semakin rapi lo jemur, semakin rapi hasilnya.

Lalu, segera lipat atau gantung setelah kering, jangan ditaruh di keranjang kotor berjam-jam. Karena kusut terbesar terjadi saat baju kering dan lo biarin berantakan.

5. Belajar Nyetrika Cepat (Sebagai Skill Darurat)

Iya, meskipun lo anti setrika, skill nyetrika tetap perlu buat keadaan darurat. Tapi lo bisa menguasai teknik “5 menit setrika kilat”:

  • Setrika bagian yang keliatan aja (kerah, manset, depan)
  • Abaikan bagian belakang atau yang tertutup jaket
  • Gunakan suhu rendah biar cepet

Inget, ini darurat. Bukan rutin.

6. Ekspresikan dengan Percaya Diri (Ini Paling Penting)

Baju kusut itu statement. Kalau lo pake dengan muka minder, lo keliatan kayak korban. Tapi kalau lo pake dengan percaya diri? Lo keliatan kayai trendsetter.

Bahasa tubuh penting. Berdiri tegak, tatap mata lawan bicara, dan jangan minta maaf atas penampilan lo. Karena nggak ada yang salah dengan baju kusut.

Tren ini soal kebebasan, bukan soal pemberontakan tanpa aturan. Pahamin itu, dan lo akan menikmatinya.

Kesimpulan (Buat Lo yang Buru-Buru)

Jadi gini intinya: tren baju kusut yang digandrungi Gen Z ini bukan karena mereka malas. Tapi karena mereka sadar:

  1. Nyetrika itu buang-buang listrik (dan bumi lagi panas).
  2. Waktu itu berharga (2 jam seminggu buat setrika? Sayang).
  3. Standar kecantikan ‘rapi sempurna’ itu nggak realistis dan bikin stres.
  4. Gen Z punya hak menentukan standar fashion mereka sendiri (bukan diatur orang tua atau atasan).

Baju kusut adalah bentuk quiet rebellion“Gue nggak perlu kinclong biar lo terima gue.”

Tapi inget: ada batasan. Jangan ke acara formal. Jangan baju bau. Jangan pake bahan yang terlalu parah kusutnya. Karena beda antara ‘protes stylish’ dan ‘kayak orang habis dirampok’.

Jadi, besok pagi mau nyetrika? Atau mau ikutan tren?

Pilihan ada di lo. Tapi kalau gue jadi lo… gue mending tambah 20 menit tidur.

Anda mungkin juga suka...