Lo pernah?
Minggu pagi. Laper. Malas masak. Tapi mau keluar.
Lo buka lemari. Ada jeans. Ada kemeja. Ada sneakers mahal yang cuma dipake 3 kali.
Lalu lo lihat piyama di belakang pintu. Atau setelan sweat set yang lo pake sejak semalam. Atau daster—iya, daster—yang bahannya adem banget.
Lo pikir: Ah, ganti baju ribet. Toh cuma ke mall dekat rumah.
Lo pakai piyama. Sendal jepit. Rambut diikat asal.
Lo keluar.
Lo sadar: di mall, lo nggak sendirian.
Bukan Malas. Tapi Memilih.
Dulu, keluar rumah tanpa dandan dianggap dosa sosial.
Generasi ortu lo bilang: “Malu-maluin! Ketemu orang banyak, masa pake baju tidur?”
Tapi di 2026, batas antara “baju dalam rumah” dan “baju keluar” mulai pudar.
Bukan karena generasi ini males.
Tapi karena mereka mempertanyakan: buat apa repot?
Bu Maya, 42 tahun, ibu dua anak, dulu kalau ke mal harus set lengkap: dress, sepatu, tas, lipstik. Sekarang? Celana legging, kaos oblong, sendal.
“Gue capek,” katanya. “Mall itu tempat belanja, bukan catwalk.”
Dia nggak sendirian.
Fenomena ‘baju tidur ke mall’ 2026 bukan tren mode. Ini pernyataan.
3 Cerita: Dari Piyama ke Publik
Sarah, 24 tahun, content writer
Sarah kerja WFH. Lemari kerjanya: kaos, celana training, hoodie. Lemari “dunia luar”: isinya baju yang udah 2 tahun nggak disentuh.
Suatu hari dia harus ke mall buat beli kado teman. Jam 10 pagi. Dia buka lemari dunia luar. Semua masih berlapis plastik laundry.
“Gue berdiri 10 menit di depan lemari. Lalu gue tutup, ambil hoodie yang tadi malem gue pake, sendal, gas.”
Di mall, dia lihat 5 orang lain pakai piyama.
“Gue ngga ngerasa aneh. Malah ngerasa: oh ternyata kita sepakat.”
Andi, 28 tahun, barista
Andi kerja di kafe. Setiap hari liat orang datang pakai baju tidur. Awalnya risih.
“Sekarang biasa aja. Malah kalo ada yang dandan rapi, gue kira mau kondangan atau interview.”
Dia sendiri? Jujur.
“Gue juga pernah ke supermarket pake piyama. Lupa beli susu. Masa pulang dulu ganti baju?”
Rina, 33 tahun, arsitek
Rina ingat 2019. Waktu itu ke bandara aja harus full face makeup.
Sekarang? Ke bandara pakaian pesawat: legging, hoodie, sendal.
“Krisis 30an itu bukan soal umur. Tapi soal lo sadar: nggak ada yang peduli sama penampilan lo selain lo sendiri.”
Dulu dia takut ketemu mantan di mall dengan baju seadanya. Sekarang?
“Biar dia lihat gue biasa aja. Biar dia tau: gue nggak berusaha keras buat dia.”
Statistik: Piyama Adalah Jeans Baru
Riset kecil dari komunitas fashion santai (data fiktif, tapi lo pasti percaya):
72% Gen Z dan Milenial mengaku pernah keluar rumah (mall, supermarket, kafe) dengan pakaian yang sebenarnya adalah baju tidur.
48% di antaranya merasa lebih percaya diri dengan outfit santai dibanding outfit formal.
Dulu piyama = malu.
Sekarang piyama = pernyataan: gue nyaman, nggak usah ribet.
Ini Bukan Malas. Ini Perlawanan Halus.
Coba ingat.
Siapa yang pertama kali bilang “lo harus dandan kalau keluar rumah”?
Ortu? Media? Iklan produk kecantikan? Lingkungan kantor?
Generasi lo tumbuh dengan pesan: penampilan adalah investasi. Harus rapi, harus modis, harus layak dilihat.
Tapi lo juga tumbuh dengan kelelahan.
Setelah 2 tahun WFH, setelah Zoom tanpa celana, setelah sadar bahwa rapat bisa jalan tanpa lipstik, setelah lo tau bahwa orang nggak peduli lo pakai baju apa karena mereka sibuk lihat HP masing-masing…
Lo mulai bertanya: Siapa yang bikin aturan ini? Dan kenapa gue harus patuh?
Baju tidur ke mall bukan soal nggak punya baju bagus.
Ini soal menolak beban sosial yang nggak masuk akal.
Tapi Jangan Salah: Ini Bukan “Nggak Peduli Penampilan”
Ada perbedaan tipis antara santai dan jorok.
Dan generasi ini paham batasnya.
Mereka tetap mandi. Tetap pakai deodoran. Tetap sisir rambut—meskipun cuma diikat asal.
Mereka cuma nggak mau repot berdandan dalam arti tradisional.
Piyama di mall itu niat. Bukan kelupaan.
4 Tips Tampil Santai Tapi Tetap Diterima Sosial (Karena Sayang Juga Kalau Sampai Diusir)
Lo bebas pakai piyama ke mana pun. Tapi biar nggak dipandang sinis sama satpam atau ibu-ibu gen X, ini triknya:
1. Piyama minimalis > piyama卡通
Piyama motif kartun gede-gede? Agak riskan.
Pilih yang warna solid, motif garis tipis, atau bahan polos. Masih piyama, tapi keliatan kayak setelan lounge.
2. Upgrade sendalnya
Sendal jepit Swallow emang ikonik. Tapi kalau bisa, ganti ke sendal yang solnya agak tebal. Atau crocs. Atau bahkan sneakers tanpa kaos kaki.
Lo tetap santai, tapi nggak keliatan kayak baru bangun tidur.
3. Tas kecil sebagai “jembatan”
Outfit lo piyama full set. Tapi lo bawa tas selempang kecil yang agak mahal.
Mata orang akan lihat tasnya dulu. Piyama dianggap “fashion statement”, bukan “kelupaan ganti”.
4. Rambut jangan berantakan total
Piyama + rambut awut-awutan = “tolong bangunin”.
Piyama + rambut diikat rapi (atau dibiarkan terurai bersih) = “sengaja”.
Bedanya tipis, tapi dampaknya ke persepsi orang beda jauh.
3 Kesalahan yang Bikin Lo Keliatan “Jorok” Bukan “Santai”
❌ Salah #1: Piyama kusut dan bernoda
Noda kopi, noda saus, noda bekas tidur. Lo boleh santai, tapi jangan bawa bekas makan malam ke mal.
❌ Salah #2: Bau
Ini nggak ada maafnya. Piyama bukan alasan buat skip mandi.
❌ Salah #3: Piyama + celana dalam keliatan
Piyama itu tipis. Pastikan lo pakai dalaman yang proper. Jangan sampai transparan di tempat umum.
Santai, bukan sengaja bikin orang nggak nyaman.
Generasi Nyaman
Lo mungkin dibilang norak, nggak tahu etika, atau kurang ajar.
Tapi lo tau nggak?
Dulu, jeans juga dianggap pakaian kerja kasar. Nggak pantas dipakai ke acara resmi. Sekarang? Lo pake jeans ke kondangan juga fine.
Dulu, sepatu kets cuma buat olahraga. Sekarang? Sneakers Rp3 juta dipake ke kantor.
Etika berpakaian itu nggak tetap. Dia berubah.
Dan lo—Gen Z, milenial, yang capek berpura-pura—lo adalah agen perubahan itu.
Bukan dengan demo. Bukan dengan petisi.
Tapi dengan keluar rumah pakai piyama, pesan kopi, duduk di mal, dan menjalani hari seperti biasa.
Sekitar 10 tahun lagi, orang akan lupa kalau dulu piyama dianggap tabu.
Mereka akan bilang: “Emang iya dilarang? Aneh banget.”
Dan lo bisa tersenyum.
Karena lo bagian dari yang membuat aturan itu usang.
Fenomena ‘baju tidur ke mall’ 2026 bukan soal lo males.
Ini soal lo memilih.
Memilih nyaman. Memilih autentik. Memilih nggak berpura-pura jadi orang lain cuma karena takut dihakimi.
Dan pilihan itu? Lebih berani dari yang orang kira.
